Save Our Language: SMPN 1 Ambon Hidupkan Kembali Bahasa Tanah

Di tengah arus globalisasi yang begitu deras, banyak identitas lokal yang mulai terkikis, salah satunya adalah bahasa daerah. Di Maluku, fenomena hilangnya dialek asli atau yang sering disebut sebagai “Bahasa Tanah” menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan. Menyadari ancaman kepunahan ini, SMPN 1 Ambon menginisiasi sebuah gerakan kultural bertajuk Save Our Language. Program ini bertujuan untuk menanamkan kembali rasa bangga dan kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa asli leluhur di kalangan generasi Z yang kini lebih akrab dengan bahasa gaul internet atau bahasa asing.

Gerakan menghidupkan kembali Bahasa Tanah di lingkungan sekolah bukanlah tugas yang mudah. Sebagian besar siswa di kota Ambon saat ini lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dialek Ambon yang sudah bercampur dengan kosakata modern. Oleh karena itu, SMPN 1 Ambon merancang kurikulum muatan lokal yang interaktif dan menyenangkan. Bahasa daerah tidak diajarkan secara kaku melalui hafalan kamus, melainkan melalui praktik seni, lagu-lagu rakyat, dan penuturan cerita sejarah (folklore). Dengan cara ini, siswa merasa bahwa mempelajari bahasa ibu adalah sebuah petualangan budaya yang seru, bukan beban akademik tambahan.

Pihak SMPN 1 Ambon juga menerapkan hari khusus di mana seluruh warga sekolah diimbau untuk menggunakan kosakata bahasa tanah dalam interaksi sederhana. Misalnya, saat menyapa guru di pagi hari atau saat berinteraksi dengan teman di kantin. Langkah kecil ini ternyata efektif untuk membiasakan telinga siswa dengan bunyi dan intonasi asli bahasa mereka. Para guru bahasa juga aktif mendokumentasikan istilah-istilah kuno yang hampir hilang dari ingatan publik, lalu membagikannya kembali kepada siswa dalam bentuk konten digital yang menarik agar relevan dengan tren masa kini.

Pentingnya menjaga bahasa daerah berkaitan erat dengan upaya menjaga kedaulatan budaya. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wadah dari filosofi hidup, adat istiadat, dan sejarah suatu bangsa. Ketika sebuah bahasa punah, maka hilang pula sebagian besar pengetahuan tradisional yang terkandung di dalamnya. Melalui program ini, para Siswa diajak untuk menjadi penjaga gawang kebudayaan Maluku. Mereka diajarkan bahwa menjadi modern bukan berarti harus meninggalkan akar budaya. Justru, pemuda yang mampu menguasai teknologi sekaligus fasih berbahasa daerah adalah individu yang memiliki karakter kuat di mata dunia.

Di tengah arus globalisasi yang begitu deras, banyak identitas lokal yang mulai terkikis, salah satunya adalah bahasa daerah. Di Maluku, fenomena hilangnya dialek asli atau yang sering disebut sebagai “Bahasa Tanah” menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan. Menyadari ancaman kepunahan ini, SMPN 1 Ambon menginisiasi sebuah gerakan kultural bertajuk Save Our Language. Program ini bertujuan…