Ki Hadjar Dikhianati: Mengungkap Sisi Lain Sejarah

Sosok Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, selalu diidentikkan dengan trilogi “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.” Namun, ada pandangan yang menyebutkan bahwa nilai-nilai luhur yang ia perjuangkan seringkali “dikhianati” dalam praktik pendidikan. Ini bukan tentang pengkhianatan personal, melainkan pergeseran makna dan implementasi.

Salah satu bentuk “pengkhianatan” adalah ketika sistem pendidikan terlalu fokus pada aspek kognitif. Mengabaikan pengembangan karakter, seni, dan kreativitas. Padahal, Ki Hadjar Dewantara menekankan pendidikan yang holistik. Yakni, membentuk manusia seutuhnya, bukan hanya cerdas secara akademik.

Prinsip “Tut Wuri Handayani” seringkali diartikan sebatas “mengikuti dari belakang.” Namun, esensi sebenarnya adalah memberikan dorongan dan kebebasan. Bukan membiarkan tanpa arah, tetapi memberi ruang bagi anak untuk tumbuh sesuai kodratnya. Terkadang, praktik di lapangan justru terlalu mengintervensi.

Aspek “Ing Ngarsa Sung Tuladha” juga seringkali diabaikan. Guru sebagai teladan seringkali menghadapi tekanan sistem yang tidak mendukung. Terkadang, fokus pada target kurikulum menggeser peran guru sebagai inspirator dan pembimbing moral.

Dalam konteks kepemimpinan, pemikiran Hadjar sering terdistorsi. Pemimpin yang hanya ingin “disanjung di depan” tanpa mau “membangun di tengah” dan “mendukung dari belakang” adalah bentuk pengkhianatan. Ini bertentangan dengan prinsip kepemimpinan yang ia ajarkan.

Padahal, Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai sosok yang kritis dan berani. Tulisannya “Als Ik Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda) adalah bukti. Ia berani mengkritik penjajah, bahkan harus diasingkan. Semangat kritis ini seharusnya melekat pada setiap insan pendidikan.

“Pengkhianatan” juga terjadi ketika pendidikan hanya dijadikan alat untuk kepentingan ekonomi semata. Anak-anak didik dipersiapkan hanya untuk menjadi pekerja. Tanpa dibekali kemampuan berpikir kritis dan berinovasi. Ini jauh dari cita-cita pendidikan merdeka ala Ki Hadjar.

Ironisnya, Taman Siswa yang didirikannya pun pernah mengalami tantangan. Idealismenya sering berbenturan dengan realita dan kebijakan. Ini menunjukkan betapa sulitnya menjaga kemurnian sebuah gagasan besar.

Mengungkap sisi lain ini bukan untuk mendiskreditkan Ki Hadjar. Melainkan sebagai refleksi kritis. Agar kita kembali pada esensi ajaran beliau. Serta memastikan pendidikan di Indonesia benar-benar mencerminkan semangat Ki Hadjar.

Sosok Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, selalu diidentikkan dengan trilogi “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.” Namun, ada pandangan yang menyebutkan bahwa nilai-nilai luhur yang ia perjuangkan seringkali “dikhianati” dalam praktik pendidikan. Ini bukan tentang pengkhianatan personal, melainkan pergeseran makna dan implementasi. Salah satu bentuk “pengkhianatan” adalah ketika sistem…